IMG-20200318-WA0075:

Pergerakan Bank Emok Dihentikan Warga Sukarapih

TERBIT: REPORTER: EDITOR:

TRIMEKAR – Salah satu bentuk penolakan terhadap aktivitas bank emok, sejumlah pemuda di Desa Sukarapih, Kec. Sukasari, Kab. Sumedang melakukan aksi, Rabu 18 Maret 2020.

Mereka, mendatangi perkumpulan bank emok atau rentenir idola emak-emak yang rutin digelar per kelompok di rumah warga itu.

Terpantau, pegelola bank emok sedang melakukan pertemuan dengan sejumlah enak-emak warga Dusun Sukabakti yang disebutnya itu ajang pembayaran cicilan.

Terdapat lebih dari lima kelompok anggota masyarakat atau sekitar lebih dari 50 emak-emak warga Desa Sukarapih yang terjerat bank emok.

Dibenarkan, tokoh agama Desa Sukarapih Ustaz Asep Bun Yamin disela aktivitas mendatangi perkumpulan bank emok bersama para pemuda itu.

“Benar, banyak warga Sukarapih yang terjerat bank emok. Jika dibiarkan, akan semakin merajalela dan warga pun akan tak henti menjadi korban lintah darat itu,” ujarnya.

Ia bersama pemuda disana bergerak mengedepankan upaya kondusif dengan harapan pelaku bank emok bisa memahami.

“Terlalu, syarat pinjaman terbilang mudah cukup menyodorkan salinan KTP dan KK serta menyepakati perjanjian. Jika syarat lengkap, maka permohonan pinjaman pun disetujui. Pembayarannya, ada yang per satu mingggu sekali dan dua minggu sekali,” ujar Asep didampingi Ustaz Agus, Apih Ukon dan Purwa di Dusun Sukabakti.

Rata-rata, kata dia, nasabah bank emok itu para ibu rumah tangga dan terbilang cukup banyak.

Memberatkan nasabah, kata Asep,
ketika para suaminya pun tak mengetahui jika istrinya menjadi pengikut bank emok.

Bahkan, karena kewajiban dinilai berat oleh para nasabah maka dikhawatirkan berdampak hadirnya persoalan sosial baru di masyarakat.

Misalnya, akibat tak mampu bayar cicilan maka khawatir berbuat yang aneh-aneh hingga menjual diri.

Ada lebih lima lembaga yang disebut-sebut warga sebagai bank emok yang diantaranya ada PNM/Mekar, BPTN, NBK, MBK, Amarta dan Komida.

Aktivitasnya tak menempuh aturan, diantaranya tanpa sepengetahuan RT, RW, Kadus bahkan Kades.

Para pemuda menuntut agar tak ada lagi aktivitas bank emok di Sukarapih.

Dikatakan, kendati terlanjur diharapkan tak ada istilah tanggung renteng, tak ada aktivitas atau perkumpulan lagi di salah satu rumah warga dan angsuran pun tak memberatkan.

Sementara, mengutip pernyataan dari pihak bank emok, Asep Bunyamin mengatakan jika pengelolanya belum bisa memutuskan harapan pemuda Sukarapih itu.

Karena, diakuinya jika itu merupakan kebijakan pimpinannya dan hanya berucap mohon waktu saja.

Pada intinya, pihak pengelola akan mengikuti harapan warga setelah komunikasi dengan pimpinannya.

“Nanti, kami akan mencari solusi tepat agar warga tak terus menerus jadi korban. Misalnya kerjasama dengan bank yang resmi atau lembaga pemdes,” ujarnya seraya mengaju pihaknya sudah komunikasi dengan tiga pilar desa dan hadir juga dari Polsek Tanjungsari . (Egy)***

Sumber Berita: Radio Trimekar 93,9 MHz
Berita Terbaru

Vaksinasi, Kodim Sumedang Datangi Sasaran Hingga Pedesaan

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

Babinsa Wargaluyu Perkuat Silaturahmi Warga Binaannya

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

Kapolres Lakukan Sertijab Sejumlah Pejabat Utama Polres Sumedang

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

Herman Habibullah: Kemandirian dan Keramat Pesantren Harus Dijaga

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

Jabatan Danramil Tanjungkerta Diserahterimakan

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

Regional

Satgas Anti Rentenir Terima 7.321 Aduan, Sebagian Soal Pinjaman Online

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

Garut Naik ke Level 3, Vaksinasi Digelorakan

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

Wagub Uu Terapkan Program Pesantren Sehat Santri Berseri

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: FORKOWAS

Ridwan Kamil Melepas Kafilah STQH Jabar

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

HJKB 211 ‘Bandung Harmoni Tuntaskan Pandemi’

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

Komentar Terbaru

 Good Jobs untuk Bank Sunedang ditengah diaruosi global menjamurnya lembaga keuangan Fintech , masih bs in the track memenuhi kewajiban nya dan menjaga performa kinerja dg baik. Yg bikin bingung adalah PT.Kampung Makmur , seperti nya gk ada bisnis kreatif yg muncul sbg terobosan atau lompatan . Yang ada adalah seperti kehilangan fokus bisnis merambah garapan aset2 Pemda yg sdh diurus elemen lain. Bingung juga mengapresiasi bisnis plan ny dg 9 core tsb . Seolah olah sdh serakah dg gagasan yg semu tdk ada cire bisnis yg fokus jd unggulan."

naya sunarya
naya****rya22@gmail.com